Jakarta, July 2017
by
Felly.
- 7:34 PM
Sudah satu minggu berlalu, rasanya masih seperti kemarin baru pulang.
Warning; post ini banyak curhat sini-sana dan tidak sepenuhnya tentang GWP Expert Class =)) Skip aja sampai nemu paragraf yang bagian hari Sabtu kalau memang cuma pengen baca tentang Expert Class. Hoiya nulis ini atas request kak Ru yang-sendirinya-dah-dewa. Semoga bermanfaat kak =))
Saya nggak tinggal di Ibu Kota, dan kalau ke ibu kota itu jarang-jarang sekali. Orang tua saya juga nggak suka ke ibu kota, jadi biasanya saya juga harus ikutan bayar kalau ingin ke Jakarta. (krai) Setiap ke Jakarta juga selalu terasa seperti short escape karena jangka waktunya pendek, nggak terkecuali kali ini.
Ceritanya dimulai dari berbulan-bulan yang lalu. Saya follow twitter Gramedia Writing Project sejak GWP2. Waktu GWP2 saya ada draft sih, cuma karena super-duper-nggak-pede jadi cuma upload prolog. Lalu sengaja nggak dilanjutkan, iya lah nggak masuk. GWP3 ini, berbekal tekad, saya punya draft lama, daripada nganggur di laptop, lebih baik diikutin GWP. Saya upload cuma dua bab, karena... masih nggak pede, udah berapa tahun draftnya ga disentuh. Waktu Mei, hari pengumuman, saya seharian merasa mules. Padahal ga bakal kepilih juga kan pikir saya... inget banget kemarin sampai gemeteran, tapi waktu itu lagi bersama teman-teman yang ga terlalu deket juga. Saya ternyata masuk 90 besar!
Mau heboh juga gimana, akhirnya cuma heboh di twitter. Keajaiban banget bisa masuk.
Awalnya saya juga galau bisa nggak ke Jakarta, seperti yang saya bilang, susah izin ke Jakarta itu =)) Apalagi masih ada trust issue sejak terakhir ke Jakarta *yha* Puji Tuhan, akhirnya saya mutusin berangkat ajalah, kapan lagi dapet kesempatan seperti ini, bisa belajar langsung dari penulis ternama dan Gramedia langsung.
Motifnya ke Jakarta sebenarnya, selalu, dua : acara utama (expert class) dan ketemu teman.
Jumat!
Saya sampai di Jakarta hari Jumat-nya, kalau Sabtunya mana berani, kemarin sudah pengalaman buruk telat acara karena berangkat pagi. Jumat juga sengaja digunakan untuk main. Kebetulan tempat nginep saya sangat dekat dengan GI. Jalan kaki bentar nyampe. Akhirnya kembali makan Tim Ho Wan! Ngidam banget Tim Ho Wan (yang taglinenya 'cheapest michellin star restaurant' tapi yang di Jakarta ya gak Michellin Star) sejak terakhir makan di Hong Kong (yang nunggu satu jam, mungkin itu yang bikin enak?) pesan BBQ Pork Bun (yang paling hype di Tim Ho Wan), Cheong Fan Babi, dan Hakau. Nggak berani banyak-banyak, saya kekenyangan makan sendiri =)) Overall, lebih enak di HK (...) Dari least favorit ke favorit:
- Peringkat tiga, Cheong Fan Babinya kering, biarpun sudah disiram nggak bisa soak in dan sehalus pangsit(?) waktu di HK, lalu fillingnya juga kurang enak. Menyesal, tau gitu beli yang isinya cakwe.
- Peringkat dua, BBQ Pork Bun. Enak sih, enak. Tapi saya kok merasa yha gitu (...) Enak aja, bukan enak banget, gitulah. Luarnya crispy, fillingnya mantap. Waktu di HK juga enak aja, bukan enak banget *dor*
- Peringkat satu, Hakau Udang. Mungkin semua tempat dimsum juga ada ini. Gapapa, enak banget udangnya. Udah lama ga makan udang kayak begini *-*
Di GI kemarin juga akhirnya!!! dapet Poscha Marker. Marker idaman banget, karena marker poscha ini bisa dipakai di semua permukaan. Tadinya saya mau lettering di belakang laptop, tapi belum kesampean sampai sekarang =)) Kelebihan marker ini yang lain koleksi warnanya yang cantik dan sangat akurat. Biasanya warna tutup marker dan warna tinta beda kan? Ini sama. Cinta banget sama warnanya. Saya beli 4 warna @ 33 rb di Gramedia. Ada yang set-setan, tapi, entah ya, berakhir beli yang satuan =)) Oh ya nemu tombow juga, ngetest sekilas, Tombow memang bagus untuk pemula sih, kontrolnya gampang, tapi terus ga minat karena udah dapet poscha dan warnanya kurang ok, nggak semuanya opaque juga. Ternyata juga banyak pilihan ketebalannya, baru cek waktu sudah sampai rumah :| Tapi gapapa, saya masih puas banget dengan hasilnya poscha.
contoh hasil. So!! pretty!!
Highlights berikutnya adalah ketemu teman-teman. Beberapa teman saya sudah mau cao ke luar negeri, dan terakhir ketemu itu lama sekali, literally bertahun-tahun yang lalu. Ketemu teman baru juga, ngobrol banyak, biarpun terasa masih kurang dan nggak rela berpisah juga, tapi senang sekali pokoknya. Sebagai anak bukan-ibu-kota saya juga kaget sepersekian detik dikit ngeliat Reza Rahardian tetiba aja lewat gitu waktu saya mau pulang. (ya udah) (gitu doang)
Sabtu!
Hari Sabtunya, sengaja dikhususkan untuk menghadiri acara Expert Class.
Acaranya jam 8 sudah open registration, tapi saya baru berangkat jam 8. Deket sih, ke sananya jalan kaki sangking deketnya. Jakarta Creative Hub tempatnya keren banget. Kudos buat interior designnya, saya nggak terlalu paham seluk-beluk interior design, tapi tempatnya nyaman dan bagus. Fotogenik juga. Sengaja nggak pagi-pagi karena teman yang saya kenal belum datang juga. Begitu sampai pun, nggak kenal siapa-siapa awalnya. Saya pemalu kalo sama orang baru, sejak beberapa hari sebelumnya ikutan sih grup WA, cuma banyak diemnya. Sementara mereka semua udah solid banget, aku malu....
Tapi kenalan dengan Laili, sempat ngobrol juga, kebetulan kita sekelompok juga. Oh ya, kebanyakan peserta Expert Class semuanya sudah punya novel. Sementara saya? Pejuang NaNoWriMo yang nulis paling sering setaun dua kali. Selepas November novelnya ga pernah dilirik lagi =)) Ini semacam tamparan sih buat saya... bikin saya ga pede juga. Tapi mereka baik-baik dan humble. Maaf ya kakak-kakak aku nggak sempat banyak ngobrol sama kalian waktu di venue T__T
Setelah itu juga ketemu dengan kak Sekar, kak Ulil, dan Papih. Kak Sekar dan kak Ulil sekelompok, saya dan papih sekelompok. Setelah pembukaan, kami dipisah ke tiga kelompok yang berbeda, kelas pertama saya ikuti kelasnya Mbak Rosi L. Simamora tentang plot. Saya pikir saya tahu plot itu apa, karena tiap baca/nonton film ini yang selalu junjung dulu, ternyata.
Secara umum rangkumannya
- Alur cerita =/= plot.
(Saya juga baru tahu hari itu kalo ternyata beda.)
- Kalau ibaratkan rumah, plot itu fondasi yang nggak kelihatan.
- Plot itu adalah ketegangan, drama, cerita.
- Strukturnya selalu di awal, ada masalah lalu meningkat terus sampai klimaks, lalu klimaks menurun sampai akhir.
- Plot itu rangkaian kejadian yang disusun dengan rangkaian sebab akibat.
Ini! Rules to live by, nomor satu pet peeves adalah plot yang nggak masuk akal karena melanggar aturan sebab akibat ini.
- Plot dibuat per karakter bukan per cerita.
Saya paham sih ini, kau dibuat per karakter juga bisa meningkatkan chara, maksudnya, menghindari terjadi chara underdeveloped. Biarpun tetap karakter sampingan akan bertujuan untuk support karakter utamanya.
- Tantangan bisa berupa internal dan eksternal. Katanya, sih, yang lebih mantep itu yang internal.
(Belum baca ulang novel2 fav saya, jadi belum bisa menkonfirmasi ini, tapi karena Mbak Rosi yang bilang, saya percaya aja.)
Begitulah, intinya, semoga nggak banyak yang terlewat. Kabar baiknya juga, kelas Mbak Rosi ini masih ada lanjutannya. Semoga bisa berlanjut lagi belajarnya.
Tempat kelas Mbak Rosi juga super pewe, dengan kursi yang disusun bertingkat ke atas, ada bantalnya, dan di dindingnya ada muralnya Lala Bohang! Saya naksir bukunya yang Book of Forbidden Feelings, lebih relateable dariapda Lang Leav dll imo? Dan style gambarnya quirky sekali, orang Indonesia pula.
Setelah itu, jeda sebentar, kembali ke ruang utama (Classroom A) untuk ikut kelas dari Tere Liye. Penulis ini sedang super terkenal, tiap ke toko buku selalu liat bukunya di rak-rak strategis, sering dengar di sini sana juga. Terkenal banget lah pokoknya, biarpun saya belum terlalu familiar dengan karya-karyanya, tapi dia menjamah banyak genre sekaligus, salut sih.
Materi kelasnya ini adalah tentang Ide & Karakter. Dua hal esensial yang ada di semua cerita fiksi, ya? Saya cerita aja ya, kayak Mas Darwis juga banyak cerita.
Awalnya dibuka dengan latihan menulis dengan kata hitam. Saya webe banget asli disuruh nulis on the spot, tapi yang favorit adalah ceritanya Papih. Mungkin saya sudah bias, tapi tiap Papih bikin cerita apa pun itu selalu menghibur saya. Seperti asal muasal nama Kepak Kelelawar dan Online shopnya. (Yang butuh serba serbi kucing, bisa dicek Kepak Kelelawar @ Tokopedia) Papih buat cerita tentang penyihir hitam. Suka takjub sama cara berpikir papih dan cara bicaranya yang out of the box, makanya saya ngefans bener.
Inti dari kelas ini sih; kenapa ada novel yang bestseller dan ada yang ga laku? Misal, Romance, semuanya juga sama ceritanya. Dua orang bertemu, jatuh cinta, ada faktor masalah, berantem, lalu baikan. Dipikir-pikir bener juga, sama kali ya kayak penyanyi atau artis. Mereka semua juga sama-sama nyanyi, lalu apa yang membedakan mana yang terkenal mana yang nggak?
Tentunya, adalah sebuah faktor X, itu bahasa saya sendiri sih. Kalo kata Mas Darwis itu harus dari persepektif baru. Kayak contohnya; Novel Ayat-ayat Cinta punya setting di Mesir dan kisah Islami, begitu deh. Saya sendiri juga belom pernah baca/nonton jadi, bener kali.
Berikutnya, tentang Karakter.
Karakterisasi harus kuat, yang berhasil itu kalau karakternya berhasil disayang banget, atau dibenci banget. Intinya, pastikan karakter itu benar-benar dibutuhkan dalam cerita. Karena ini novel, amunisi kita cuma kata-kata. Kalau di film, mungkin ada karakter yang sekedar lewat terus di akhir nggak diceritain juga nggak apa. Tapi dalam novel, pembaca pasti nanya, itu nasib karakter gimana akhirnya?
Berikutnya, karakter diciptakan berdasarkan segmen atau kebutuhan novel itu apa.
- Karakter itu harus berkarakter. Misal, kalau karakter itu dikatakan 'Pak Sabar orang yang sabar' sampai akhir novel diulang terus, pembaca akan bingung 'hah jadi pak sabar itu sabar di sisi mananya....' tapi kalau dalam cerita diceritakan tentang berbagai perjuangan Pak Sabar dimarahi tapi tetap baik, dll, itu lebih menunjukkan karakter sesungguhnya. Ini seperti salah satu tips menulis yang saya baca kemarin, yaitu Show, don't tell.
Maksudnya tulisan akan jadi lebih hidup kalau kita menceritakan visual di sekitar, bukan sekedar bilang. Contohnya kalimat 'Dia sedih' dan 'Wajahnya muram, setitik air mata menetes di wajahnya.' Ngerti kan maksud saya?
Oh ya, di kelas ini... saya sempet nanya. Karena menurut saya masih blur banget definisi 'sudut pandang berbeda', terus agak lupa gimana ceritanya, intinya menurut saya, ya itu yang harus dicari. Fast forward, ditanya lah nama saya ama Mas Darwis, terus skip skip skip, bagian yang saya inget cuma 'Siapa tahu Felicia sepuluh tahun lagi jadi penulis terkenal.' Saya aminin aja mas, amin. Terus saya dapet voucher gramedia 50rb. #murah
Tapi menurut saya personal, proses kreatif ide dan karakter tiap penulis ini beda-beda sih. Nggak semua orang (baca: saya) bisa dipaksa duduk terus mikir mau bikin cerita apa. Bisa stress saya kalo disuruh gitu =)) (Tapi pernah sih NaNoWriMo 2015 gitu, ends up quite nicely *...*) Bagian ide & karakter ini bisa dibilang fav saya dalam buat cerita, soalnya idenya suka muncul dengan sendirinya gitu.
Setelah itu, ada jeda makan siang. Dipakai untuk ngobrol, foto-foto, jalan-jalan sama Kak Sekar di gedung Jakarta Creative Hub. Kangen ngets kita terakhir ketemu 2014 di McDonalds People's Park, Chinatown, Breakfast bareng =)) dan ada pameran juga dan di luar juga ada pop-up store buku-bukunya Gramedia. Sayaaaang, saya keasyikan ngobrol terus ga tahu juga mau beli apaan =))
Kelas ketiga, adalah kelas dari M. Aan Mansyur. Penulis ini sedang naik daun sejak dia nulis Tidak Ada New York Hari Ini. Puisi-puisi dia bagus sih, tapi saya belum baca novelnya. Kelas ini membahas tentang diksi dan narasi. Itu dari spoilernya, tapi kenyataannya lebih fokus ke cara mengontrol narasi. Ini sendiri agak ngawang karena ga bisa dijelasin, harusnya saya baca buku favorit saya terus ngerasain sendiri. Intinya, sih, tentang kalimat yang bagaimana yang menarik untuk pembaca melanjutkan? Dan satu kalimat itu mengandung satu pokok pikiran. Juga diajarkan tips tentang mengatur tempo cerita.
Di kelas ini, saya tertohok. Dari cara bicaranya Mas Aan terdengar seperti penulis super tekun yang nggak bosan-bosan tulis-rewrite terus, dan saya... orang yang sebaliknya. Makanya naskah saya masih mentah, makanya saya ga dapet surcin. (hus) Nanti saya akan mulai melakukan tips-tipsnya deh, semoga ga keburu dimakan tugas-tugas kuliyeah.
Pas itu, saya mulai ga fokus keknya, gak terlalu banyak catatan saya... maafkan.
Memasuki sesi terakhir, Sesi dari Ci Hetih dan Bernard Batubara. Yang pertama Ci Hetih, editor Gramedia yang paling banyak mejeng di twitter =)) Saya follow lho! Banyak yang bilang nakutin, kalo saya sih... gatau deh, tapi bahasan twitnya menarik! Intinya sih rangkuman dari semuanya yaitu BOKER. (sangat, sangat, catchy istilahnya. Jadi keinget CaBul jaman SMA) (maksudnya case-building kok)
Baca -- kalau bisa semuanya, yang di luar comfort zone sekalipun
Observasi. -- tentang kenapa alasan kita menulis.
Kill Your Darlings -- Judul film favorit saya, Lucien Carr! #gak Intinya; harus tega ama naskah sendiri, yang ga penting ya dihapus.
Eksekusi -- Kalo bikin ini itu ya pastinya harus ditulis.
Rewrite -- a.k.a. bagian paling susah. Belom saya lakuin =))
Cara penyampaiannya lucu, yha; tapi aku tetap terlalu malu untuk poke poke u__u
Terakhir, kelas dari Bernard Batubara. Tentang promosi buku lewat sosmed. Saya sih sejujurnya kurang familiar sama dia... tapi kelihatannya, dari semua penulis lain memang beliau yang paling aktif di sosmed. Online presencenya kerasa banget, mau masuk aja instastory dulu. Di kelas ini dijelasin berbagai macam hal tentang manage sosmed dan ke arah branding penulis (fyeah!branding), seperti; harus berani nulis kalo author dan harus pasang foto. Tapi, kak, saya malu nulis kalo saya author padahal belom punya buku apa-apa... Terus tentang nulis kepsyen yang baik, dan harus interaksi dengan followers. Dan di internet, bisa aja ada orang yang komentar nggak suka sama tulisan kita.... bener sih, gausah nulis, nggak ngapa-ngapain aja mungkin ada orang yang ga suka =)) Saya ... akan berusaha, dan mulai yang ini nanti aja mas kalo udah punya buku (...)
Fast forward, pengumuman pemenang.
Pemenangnya adalah
1. M. Dwipatra 2. Indah Erminawati 3. Vevina Aisyahra 4. Lia Isvaricha Nurida 5. Anastasye Natanael
Pemenangnya adalah
1. M. Dwipatra 2. Indah Erminawati 3. Vevina Aisyahra 4. Lia Isvaricha Nurida 5. Anastasye Natanael
Saya ga menang.
(misi mas salvador sobral lewat dulu)
Gak heran, ga heran. Ga ngarep menang juga. Turut senang untuk yang menang!! Keren pokoknya. Cerita mereka bisa dibaca di gwp.co.id dan ditunggu novelnya. Dari sana juga dapat satu goodie back asyique. Isinya satu novel gramedia, satu botol minum snazzy, pengharum mobil, notebook + bolpen. Tapi karena buru-buru gitu kemarin... cuma pamitan sama Papih, terus jalan keluarnya bareng kak Sekar, udah ditungguin karena ada yang kiasu takut ketinggalan bus, jadi saya ga ikutan tuker buku =)) Baru sadar pas perjalanan balik... yha, dibawa lagi bukunya, ampe sekarang belom kubuka lagi kertas korannya =))
Thus, that's the end of the journey. The start of a new chapter. Goal pengen punya novel itu mayan lama sih... waktu saya SMA. Terus, entah kenapa, padahal belom terlalu serius juga, saya mikir 'alah kayaknya ga bakal mungkin saya punya novel...' entah ya, jadi ikut semangat ngeliat para penulis yang saya temui kemaren. Sekarang goals saya naik dikit; saya cuma mau jadi goodreads author T__T Satu aja gapapa, yang penting goodreads author (...) Saya nggak segitu ambis sih, jadi, jangan ceng-cengin saya ya kalo kalian baca ini..... saya ga suka diceng-cengin. Let me work in my own time.
foto bareng peserta Expert Class yang saya dapet. Coba dicari saya yang mana HAHAHA
Semoga, nanti, suatu hari goal saya tercapai. Amin.
Semoga bisa juga segera main-main ke Jakarta lagi, bisa ikutan GWP4, ke sana cuma buat main juga saya senang sekali! See ya, then.




