Coming Out
“Lucien, please stay.”
Aku tidak suka memohon-mohon kepada orang. Tapi ini Lucien, ia berbeda. Aku tidak pernah bertemu dengan orang lain sepertinya, ia membuat semuanya terasa tidak tidak berarti. Ia begitu memesona, ia dapat membuat semua orang melakukan apapun yang ia mau. Seperti Lucien adalah satu-satunya hal yang berarti dan yang lainnya tidak memiliki arti sama sekali. Perasaanku bertepuk sebelah tangan, tentunya.
- - -
Ini seharusnya adalah malam belajar kami, ujian akhir berada di depan mata. Lucien datang ke kamar asramaku untuk belajar. Ia memintaku untuk menjelaskan semua materi untuk besok dari awal sampai akhir. Dalam situasi normal, aku bahkan tidak akan susah-susah menjelaskan apapun, cukup mengusir orang itu keluar saja. Tapi ini Lucien, maka aku setuju melakukannya. Hanya saja irisnya yang berwarna terang, aroma tubuhnya yang manis, mengacaukan konsentrasiku sepanjang waktu. Lama kelamaan aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak menyadarinya. Sastra Inggris tidak sesulit itu kan? Bukankah kita sudah belajar untuk membaca sejak berusia tiga tahun? Ditambah pula dengan fakta bahwa kami sama-sama membenci dosen sastra. Kami sudah setuju bahwa ia orang yang paling menyebalkan di seluruh kampus.
“Aku lelah,” Lucien memegang keningnya. “Bisakah kita beristirahat sebentar?”
Belum sempat menjawab, ia tersenyum ke arahku—senyuman yang begitu menawan—dan hal berikutnya yang aku tahu, Lucien melompat ke atas tempat tidurku dan mengubur dirinya di dalam kehangatan selimutku. Ia bahkan menggodaku untuk meninggalkan meja belajar dan bergabung dengannya.
Butuh waktu, tapi aku berakhir menghabiskan waktu dalam dekapannya dengan cara-cara yang membuatnya mempertanyakan apa intensi di baliknya. Aku berusaha keras untuk menghindari kata ‘mesra’ tentu, tidak ada apapun yang terjadi. Lagipula, aku masih tertarik dengan wanita sementara Lucien, ia sepertinya pansexual. Bagaikan singa yang menaklukan semua benua dan membuat cinta tumbuh dan membiarkannya rekah dimana-mana.
Sementara aku? Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
——
“Aku tidak bisa, Simon dear. Pasukan inspeksi akan memeriksa kamar-kamar dalam waktu, ” Ia berhenti berbicara dan memeriksa jam tangannya. “Lima belas menit. Dan ini sudah larut malam, kamu membutuhkan tidurmu.” Lucien menjawil hidungku dengan cara yang begitu manis. “Sampai ketemu besok, Simon?”
Lucien bangkit dari kasurku dan mengenakan jaketnya dan berjalan keluar. Aku tidak mau Lucien pergi, tidak akan ada malam seperti ini lagi di masa depan. Bagaimana jika Lucien pergi ke kamar orang lain dan melakukan hal serupa kepadanya? Aku hanyalah variabel dalam skenario Lucien, bisa dengan mudah digantikan dengan orang lain. Aku ingin satu malam saja bersamanya tetapi sepertinya Lucien sudah berjalan ke ujung lorong, seperti tidak akan kembali lagi.
Menyadari bahwa aku mengamati dari ujung pintu, Lucien menatapku dari jauh dan tersenyum, lalu menutup pintu kamarnya.
— —
“Kath, bagaimana kamu tahu kalau seseorang benar-benar menyukaimu?”
Kakakku, Kathryn, sudah bertunangan dengan seorang pemuda kaya yang sudah bersama sejak sekolah menengah atas. Kebetulan sedang berkunjung akhir pekan ini ke kampusku.Tentu saja ia lebih tahu banyak hal dari padaku, dan aku membutuhkan bantuannya.
“Well, dia perhatian kepadamu dan selalu baik, terkadang memberikan afeksi secara fisik.”
“Bagaimana kalau ia melakukannya ke semua orang?”
“Tunggu—Simon. Apakah kamu sedang menyukai seseorang?” Kakakku tersenyum jahil, memang ini pertama kalinya aku berbicara mengenai topik ini kepada kakakku.
“Ya dan tidak—tolong, Kath. Jangan tanya detail lagi kepadaku.”
“Deskripsikan gadis beruntung itu,”
Aku menelan ludah, tidak ingin terlalu cepat mengoreksi bahwa itu bukan ‘gadis’ melainkan seorang pemuda. Pernah sekali aku mendengar Kath berdiskusi mengenai topik homophobia bersama orangtuaku dan aku belum siap dijadikan subjek.
“Tinggi, kurus, iris matanya terang, senyumannya manis,” Aku ingin tersenyum sendiri mengingat senyuman Lucien malam itu, malam terakhir aku bertemu dengannya setelah ia menghilang seminggu dan terus menghitung. Ia tidak muncul di ujian dan tidak dimanapun. Perlahan-lahan perasaanku menjadi kacau, apakah Lucien sengaja menghindariku?
“Apakah ia calon ibu rumah tangga yang baik? Pintar memasak? Atau apa?”
Aku memutar bola mataku, Kath benar-benar berpikir bahwa ini perempuan, tentu saja semua orang akan merasa seperti itu. Untuk hal ini, aku merasa membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara dan selama ini Kath cukup dapat dipercaya.
“Dia bukan seorang calon ibu rumah tangga yang baik. Kath aku ingin mengaku sesuatu, tapi tolong jangan beritahukan siapapun, please? Ini masih membingungkan untukku.”
“Apa maksudmu, Simon?”
“Dia seorang laki-laki. Tapi aku bukan gay,”
“Lalu bagaimana kamu mendefinisikan dirimu?”
Aku tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Kath, itu masalahnya di antara masalah-masalah lain.
0 comments