Things That I Can't Speak
Napasku terengah-engah.
Aku tidak dapat lagi menghitung seberapa jauh aku berlari. Aku hanya tetap berlari sejauh mungkin seperti ada seseorang yang sedang mengejarku, dan bukannya tidak mungkin ada seseorang yang mengejarku. Ketika aku meninggalkan kabin itu yang terletak di tengah hutan, entah bagaimana aku dapat mendengarkan suara sirene polisi dari kejauhan dan itu membuatku benar-benar ketakutan. Aku terbangun dan tidak mengingat apapun dengan pemandangan seorang laki-laki yang kukenal lebih dari sekedar teman terbaring, tidak bergerak, kemungkinan tidak bernapas. Peraturan pertama yang aku tahu, aku tidak akan menyentuhnya dalam sirkumstansi apapun. Polisi mungkin menemukannya dan akan menarik hubungannya kepadaku.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Berusaha untuk menenangkan diriku, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku meringkas semua barang-barangku secepat mungkin dan meninggalkan kabin itu tanpa melihat ke belakang. Aku tidak dapat melihat ke arah laki-laki itu, ia sudah menimbulkan cukup banyak trauma. Hutan itu gelap, berbekal sebuah senter aku berlari dan menemukan stasiun bus terdekat. Hari sudah cukup gelap, masih beruntung aku dapat menaiki bus terakhir. Pergi sejauh mungkin dari tempat ini, itu sudah lebih dari cukup.
---
Tiga bulan sudah berlalu.
Kehidupanku sudah mulai kembali stabil, aku menemukan sebuah pekerjaan biarpun tidak seberapa, tinggal sendirian di sebuah flat, menyamarkan diri di antara kota besar ini. Begitu mudah untuk menjadi invisible di tengah kota yang begitu ramai, begitu mudah pula menjadi kesepian di tengah keramaian. Paling tidak, sejak kejadian itu, hanya sekali aku pernah mendapat telepon dari polisi.
Malam itu akhir pekan yang ramai, aku berjalan pulang dari tempat kerjaku yang tidak terlalu jauh ke arah flatku. Tidak ada tujuan lain, aku tidak memiliki teman selain teman kerja yang menganggap ada sesuatu yang salah denganku. Orang-orang yang berpapasan denganku tampaknya memiliki teman, aku adalah pengecualian, tidak ada siapapun untukku yang menemaniku. Mengurangi rasa kesepianku, aku menyalakan musik, menekan tombol shuffle, dan menghubungkannya ke earphone dan mulai mendengarkannya.
Pilihan komputer secara acak jatuh pada sebuah lagu yang tergolong baru, berbeda dari biasanya. Musiknya begitu sesuai dengan langit sore yang mendung, secara gradual berubah menjadi malam gelap. Kalau dalam kasus langit malam, ia akan meraih satu titik dimana langit malam berubah menjadi pagi hari, namun tidak dalam kasusku. Seberapapun aku berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, I'm falling apart.
Kesepian.
Satu kata itu mendeskripsikanku dengan baik. Tidak dapat menghubungi keluargaku, biarpun memang aku tidak pernah dekat dengan ibuku--satu-satunya keluargaku--tidak sampai aku merasa benar-benar aman. Aku tidak dapat memberikan penjelasan kepada mereka. Aku benar-benar sendirian, tanpa teman maupun keluarga. Dengan uang pas-pasan dan flat dengan cat yang nyaris mengelupas dan lantai yang memiliki bau urin tidak perduli seberapapun aku mencoba membersihkannya. Tidak akan lama, begitu caraku menguatkan diri dalam keadaan seperti ini.
'Cause I've done some things that I can't speak
And I've tried to wash you away but you just won't leave
'Cause I've done some things that I can't speak
Musik yang kuputar mencapai bagian refrain, menampilkan progres dengan alunan nada dalam not-not minor yang terdengar misterius serta ironis sekaligus. Itu bagaimana orang melihatnya sekarang, misterius, namun di dalam lubuk hatiku? Ironis. Saat itu aku tiba di tepat di depan pintu masuk apartemenku. Aku terhenti sejenak, melihat siluet laki-laki yang familiar itu berdiri dengan tegap, tidak terlihat terluka dan sehat. Nyaris seperti ia sedang menungguku di sana. Bagaimana ia dapat menemukanku? Bagaimana laki-laki itu ada di tempat ini? Semakin berjalan mendekatinya, semakin aku menyadari bahwa ia adalah laki-laki itu. Sudah tiga bulan sejak aku melihatnya, dan jujur, aku tidak menyangka bahwa aku akan melihatnya lagi.
"Mengapa...? Bagaimana?” Kata-kata tersendat keluar dari mulutku.
"Shhh," Laki-laki itu menghentikanku berbicara. "Aku memaafkanmu."
Seketika air menetes dari mataku dan tidak dapat berhenti. Di depan sebuah jalan yang padat dengan manusia, aku tidak perduli lagi. Seketika semua perasaan kesepian itu hilang, aku ingin mendekapnya dan meminta maaf untuk apapun yang sudah kulakukan, tapi tubuhku lemas dan tidak dapat menghentikan tangisanku.
"Thea, shush." Ia menenangkanku. Sudah lama sejak ada seseorang yang memanggil namaku. Rasanya familiar, nyaman dan menyenangkan. "Aku tidak dapat tinggal lama, kau tahu dimana kau harus mencariku."
Aku tidak ingin ia pergi, memiliki seseorang biarpun untuk sebentar membuatnya merasa lebih hidup. Tapi ia tetap pergi, dan aku tidak memiliki otoritas untuk menghentikannya setelah hal-hal yang kulakukan. Ia meninggalkan sebuah pesan, ia masih ingin bertemu denganku lagi, kembali ke tempat dimana semuanya berakhir.
I'm begging you to keep on haunting
---
Aku menemukan diriku di tempat itu, kabin di tengah hutan.
Bahkan proses untuk sampai di sini pun agak rabun di ingatanku. Dari luar kabin, langit terlihat seperti tengah malam dan bintang-bintang menghiasi angkasa luas. Kabin itu disegel oleh garis polisi, tidak ada cara untukku dappat masuk ke dalamnya. Dan tidak mungkin bahwa laki-laki itu ada di dalamnya. Aku menyadari kesalahanku, kebodohanku. Lalu siapa yang ia lihat tadi? Aku begitu senang bertemu dengannya hingga kehilangan akal sehat dan tidak menyadari apa yang terjadi.
Hanya ada dua kemungkinan. Aku dapat berbicara dengan hantu, atau aku sudah gila.
--
Terinspirasi dari lagu Haunting - Halsey, kredit judul juga. Untuk tantangan #KataNada
0 comments